<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Aan Sam</title>
	<atom:link href="http://aansam.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aansam.wordpress.com</link>
	<description>Pembelajar yang masih belajar</description>
	<lastBuildDate>Thu, 13 Aug 2009 06:39:04 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='aansam.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/e33356c7f6dcc977d4c7f56bfb71d53a?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Aan Sam</title>
		<link>http://aansam.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Pengalaman(ku) dengan Edgy Eft</title>
		<link>http://aansam.wordpress.com/2009/01/15/pengalamanku-dengan-edgy-eft/</link>
		<comments>http://aansam.wordpress.com/2009/01/15/pengalamanku-dengan-edgy-eft/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Jan 2009 01:00:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aan Sam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serius]]></category>
		<category><![CDATA[linux]]></category>
		<category><![CDATA[problem]]></category>
		<category><![CDATA[shutdown]]></category>
		<category><![CDATA[sound]]></category>
		<category><![CDATA[ubuntu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aansam.wordpress.com/?p=43</guid>
		<description><![CDATA[Aku sadar kalau tulisan ini basi banget.
Ketika tulisan ini dibuat, si ubuntu sudah bernama Intrepid Ibex. Kalau versi yang aku gunakan bernomor 6.10, maka si Intrepid Ibex bernomorkan 8.10. Yach, sudah ketinggalan hampir 2 tahun dan aku masih setia menggunakan si Edgy Eft a.k.a. Ubuntu 6.10.
Gak apa-apa, it&#8217;s not a big deal.
Ada beberapa alasan kenapa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aansam.wordpress.com&blog=910750&post=43&subd=aansam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Aku sadar kalau tulisan ini basi banget.</p>
<p>Ketika tulisan ini dibuat, <a href="http://www.ubuntu.com" target="_blank">si ubuntu</a> sudah bernama Intrepid Ibex. Kalau versi yang aku gunakan bernomor 6.10, maka si Intrepid Ibex bernomorkan 8.10. Yach, sudah ketinggalan hampir 2 tahun dan aku masih <em>setia</em> menggunakan si Edgy Eft a.k.a. Ubuntu 6.10.</p>
<p>Gak apa-apa, it&#8217;s not a big deal.</p>
<p>Ada beberapa alasan kenapa aku <strong>masih setia</strong> menggunakan si Edgy Eft. Dan aku rasa tidak perlu dituliskan kali ini. Pada <a href="http://aansam.wordpress.com/2007/06/05/dual-boot-feisty-fawn-pada-pc-tua/" target="_blank"> tulisan tentang Dual Boot</a>, sedikit banyak sudah ada <em>clue</em>nya. Alasan lainnya yaitu adanya DVD Repository hasil sumbangan seorang teman. Jadi lengkap sudah istilah <em>free</em> yang aku dapatkan. Udahlah installernya gratis, Repository pun didapatkan dengan gratis pula. How lucky me? It&#8217;s totally really free <span style="text-decoration:line-through;">especially for me</span>.</p>
<p><span id="more-43"></span><br />
Aku mengalami beberapa pengalaman unik ketika ber-Edgy Eft ria, diantaranya :</p>
<ol>
<li>Suara<br />
Ketika masuk mode grafis, biasanya diperdengarkan suara pembuka   yang mengingatkan pengguna bahwa si mesin sudah siap. Pengalaman yang aku dapatkan adalah terdengarnya suara drum yang dipukul berkali-kali dalam irama yang sangat tidak teratur. Udah berisik dan tidak berhenti dalam waktu yang lama.<br />
Mencoba <em>login</em>, berhasil dan sukses dengan iringan suara drum yang sangat mengganggu.<br />
<em>Bingung</em><br />
Baca-baca arsip di <a href="http://groups.google.com/group/id-ubuntu?hl=id"> milis ubuntu-id </a>(<em>mengucapan terima kasih kepada semua member ubuntu-id, dari jenengan semua aku banyak belajar. sekali lagi terima kasih para ubuntero</em>). Juga mencari ke beberapa situs yang direkomendasikan oleh <a href="http://www.google.com" target="_blank">paman Google</a>. Tidak lupa membaca dokumentasi yang tersedia di <a href="http://www.ubuntu-id.org">ubuntu indonesia</a>.<br />
Dari beragam panduan <span style="text-decoration:line-through;"> dan solusi</span> yang bertebaran, salah satu solusi yang cukup membantu <span style="text-decoration:line-through;">di PC yang aku pakai</span> adalah pemberian option di kernel. Opsinya adalah : <span style="color:#0000ff;"><strong>acpi=off</strong></span>.<br />
Dimana tempat untuk memberikan opsi tersebut? Tempatnya adalah di file /boot/grub.lst.<br />
Bagaimana cara memberikan opsi tersebut?<br />
Ma&#8217;af, cara untuk memberikan opsi ini menggunakan gabungan dua dunia. Yaitu dunia <span style="text-decoration:line-through;">terminal</span> yang hitam dan dunia <span style="text-decoration:line-through;">GUI</span> yang berwarna. Berikut ini adalah langkah demi langkah <span style="text-decoration:line-through;">step by step</span> yang aku lakukan :</p>
<ul>
<li><span style="text-decoration:line-through;">di</span> GUI</li>
<p>Application &gt; Accessories &gt; Terminal</p>
<li><span style="text-decoration:line-through;">di</span> Terminal</li>
<p>Ketikkan : <span style="color:blue;">sudo nano /boot/grub/grub.lst</span><br />
<em>Cara mengetik : ketik <span style="color:red;">sudo</span> kemudian menekan tombol <span style="color:red;"> spasi</span> dan diikuti dengan mengetik <span style="color:red;">nano</span> diselingi dengan menekan tombol <span style="color:red;">spasi</span> dilanjutkan dengan mengetik <span style="color:red;">/boot/grub/grub.lst</span> kemudian diakhiri menekan tombol <span style="color:red;">enter</span>.</em><br />
Masukkan password root yang diminta.<br />
Perintah ini dimaksudkan untuk mengolah file <em>grub.lst</em> yang bertempat di <em>/boot/grub/</em><br />
Selesai? Masih belum.<br />
Dengan tombol arah yang ada di keyboard, cari baris dengan kata <span style="color:blue;">kernel</span>. Cari setelah tulisan <em>≠ ≠ End Default Options ≠ ≠</em>.<br />
Biasanya pada baris tersebut terdapat tulisan : <span style="text-decoration:line-through;">contoh berikut merupakan isi di mesin yang aku pergunakan</span></p>
<p><em>title     Ubuntu, kernel 2.6.17-10</em><br />
<em>root     (hd0,0)</em><br />
<em>kernel  /boot/vmlinuz-2.6.17-10-generic root=/dev/hda0 ro quiet splash</em><br />
<em>initrd   /boot/initrd.img-2.6.17-10-generic</em><br />
<em>quiet</em><br />
<em>savedefault</em><br />
<em>boot</em></p>
<p>Setelah ketemu, arahkan kursor pada baris yang bertuliskan <em>kernel   /boot/vmlinuz-2.6.17-10-generic root=/dev/hda0 ro quiet splash</em>. Arahkan pada akhir baris, dan ketikkan <span style="color:blue;"><strong>acpi=off</strong></span>.<br />
Sehingga baris tersebut berubah menjadi :<br />
<em>kernel   /boot/vmlinuz-2.6.17-10-generic root=/dev/hda0 ro quiet splash <span style="color:blue;">acpi=off</span></em><br />
Setelah selesai, simpan perubahan tersebut dengan menekan tombol <span style="color:red;">Ctrl</span> dan huruf <span style="color:red;">O</span> secara bersamaan kemudian diikuti dengan menekan tombol <span style="color:red;">Enter</span>. Untuk mengakhiri dan keluar dari editor nano tersebut tombol <span style="color:red;">Ctrl</span> dan huruf <span style="color:red;">X</span> ditekan bersama dan diakhiri dengan memencet tombol <span style="color:red;">Enter</span>.</p>
<li><span style="text-decoration:line-through;">di</span> GUI lagi</li>
<p>Tutup semua aplikasi dan Restart PC.<br />
Application &gt; System &gt; Quit &gt; Reboot</p>
<li>Hasil usai Reboot</li>
<p>Tidak ada suara drum yang dipukul dengan irama tak beraturan lagi.<br />
Gunakan XMMS untuk muter file-file MP3, suara terdengar jelas.<br />
Syukur dech.</ul>
<p>Pengalaman pertama yang asyik.</li>
<li>Shutdown<br />
Saatnya me<strong>mati</strong>kan PC.<br />
Application &gt; System &gt; Quit &gt; Shutdown<br />
Hasilnya?<br />
Lampu di keyboard sudah mati tapi monitor masih tetap menyala dan kipas prosesor belum berhenti. Bahkan CD Drive tidak memberikan respon untuk membuka slotnya sama sekali.</p>
<p><em>Percobaan pertama</em><br />
Tombol power ditekan agak lama, kurang lebih 10 detik. Monitor padam dengan sendirinya dan kipas prosesor berhenti berputar.<br />
<em>Percobaan kedua</em><br />
Booting dengan Ubuntu 6.06 LTS dan shutdown dari sana. Hasilnya? PC dapat shutdown dengan baik dan benar.<br />
<em>Bingung</em><br />
Baca-baca arsip di <a href="http://groups.google.com/group/id-ubuntu?hl=id"> milis ubuntu-id </a>(<em>mengucapan terima kasih kepada semua member ubuntu-id, dari jenengan semua aku banyak belajar. sekali lagi terima kasih para ubuntero</em>). Juga mencari ke beberapa situs yang direkomendasikan oleh <a href="http://www.google.com" target="_blank">paman Google</a>. Tidak lupa membaca dokumentasi yang tersedia di <a href="http://www.ubuntu-id.org">ubuntu indonesia</a>.<br />
<em>Solusi</em><br />
Sederhana banget solusinya dan tidak pernah disangka. Pada <span style="color:blue;">/etc/modules</span> cukup ditambahkan <span style="color:blue;"><strong>apm power_off=1</strong></span> di akhir baris.<br />
Caranya :</p>
<ul>
<li>GUI</li>
<p>Application &gt; Accessories &gt; Terminal</p>
<li>Terminal</li>
<p>Ketikkan : <span style="color:blue;">sudo nano /etc/modules</span><br />
<em>Cara mengetik : ketik <span style="color:red;">sudo</span> kemudian menekan tombol <span style="color:red;"> spasi</span> dan diikuti dengan mengetik <span style="color:red;">nano</span> yang diselingi dengan menekan tombol <span style="color:red;">spasi</span> dilanjutkan dengan mengetik <span style="color:red;">/etc/modules</span> dan diakhiri menekan tombol <span style="color:red;">enter</span>.</em><br />
Arahkan kursor pada baris terakhir dan ketikkan <span style="color:blue;"><strong>apm</strong></span> diikuti dengan menekan tombol <span style="color:blue;">spasi</span> diakhiri dengan mengetikkan <span style="color:blue;"><strong>power_off=1</strong></span> dilanjutkan dengan menekan tombol <span style="color:red;">Enter.</span><br />
Setelah selesai, simpan perubahan tersebut dengan menekan tombol <span style="color:red;">Ctrl</span> dan huruf <span style="color:red;">O</span> secara bersamaan kemudian diikuti dengan menekan tombol <span style="color:red;">Enter</span>. Untuk mengakhiri dan keluar dari editor nano tersebut tombol <span style="color:red;">Ctrl</span> dan huruf <span style="color:red;">X</span> ditekan bersama dan diakhiri dengan memencet tombol <span style="color:red;">Enter</span>.</p>
<li>GUI</li>
<p>Tutup semua aplikasi dan Restart PC.<br />
Application &gt; System &gt; Quit &gt; Reboot</p>
<li>Hasil usai Reboot</li>
<p>Application &gt; System &gt; Quit &gt; Shutdown<br />
Monitor bersedia mematikan diri sendiri dan kipas prosesorpun berhenti berputar.</ul>
</li>
<p>Pengalaman kedua yang mendebarkan.</ol>
<p>Rasanya lega banget usai berkeliling dari dunia <span style="text-decoration:line-through;">konsole</span> yang satu ke dunia <span style="text-decoration:line-through;">GUI</span> yang lain.</p>
<p>Senang?<br />
Gak juga. Dari hal ini, aku belajar bahwa masih banyak yang belum ketahui sama sekali. Kemampuan yang aku miliki belum dapat dibanggakan sama sekali. Masih banyak yang perlu dipelajari.</p>
<p>Selamat Belajar dan Tetap Belajar.</p>
<p>Hampir terlupa, hasil dari <em>lspci | grep audio</em> di <span style="text-decoration:line-through;">dunia warna hitam </span>terminal adalah :</p>
<blockquote><p>00:14.0 Multimedia audio controller: C-Media Electronics Inc CM8738 (rev 10)</p>
</blockquote>
<p>Sedangkan hasil dari <em>uname -a</em> di <span style="text-decoration:line-through;">dunia warna hitam</span> terminal adalah sebagai berikut :</p>
<blockquote><p>Linux edgy-eft 2.6.17-10-generic #2 SMP Fri Oct 13 18:45:35 UTC 2006 i686 GNU/Linux</p>
</blockquote>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aansam.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aansam.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aansam.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aansam.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aansam.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aansam.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aansam.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aansam.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aansam.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aansam.wordpress.com/43/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aansam.wordpress.com&blog=910750&post=43&subd=aansam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aansam.wordpress.com/2009/01/15/pengalamanku-dengan-edgy-eft/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6bb0a4175d6a120d3994f2e41c16d3a6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Saham dan CDS untuk orang lugu</title>
		<link>http://aansam.wordpress.com/2008/10/15/saham-dan-cds-untuk-orang-lugu/</link>
		<comments>http://aansam.wordpress.com/2008/10/15/saham-dan-cds-untuk-orang-lugu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Oct 2008 05:58:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aan Sam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serius]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aansam.wordpress.com/?p=40</guid>
		<description><![CDATA[Awalnya sich karena tertarik pengen tahu tentang Saham dan Credit Default Swap itu sendiri. Selanjutnya rasa penasaran yang muncul.
Kenapa?
Penasaran aja bagaimana pasar saham dan Credit Default Swap (CDS) mampu membuat sebuah negara super power penganjur sekaligus pelaku pasar bebas bersedia dengan konyolnya untuk merogoh kocek dalam-dalam demi sebuah dalih. Beragam dalih diberikan, dibeberkan dan dijelaskan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aansam.wordpress.com&blog=910750&post=40&subd=aansam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Awalnya sich karena tertarik pengen tahu tentang Saham dan <strong>C</strong>redit <strong>D</strong>efault <strong>S</strong>wap itu sendiri. Selanjutnya rasa penasaran yang muncul.</p>
<p>Kenapa?<br />
Penasaran aja bagaimana pasar saham dan Credit Default Swap (CDS) mampu membuat sebuah negara <em>super power</em> <span style="text-decoration:line-through;">penganjur sekaligus pelaku pasar bebas</span> bersedia <span style="text-decoration:line-through;">dengan konyolnya</span> untuk merogoh kocek dalam-dalam demi sebuah dalih. Beragam dalih diberikan, dibeberkan dan dijelaskan demi sebuah <em>alasan yang tidak rasional</em>.<br />
Alasan tidak rasional tersebut adalah <em>kerugian</em>.</p>
<p>Kenapa aku katakan hal ini?<br />
<span style="text-decoration:line-through;">Bukan berlagak nasionalis</span></p>
<ol type="a">
<li>Ketika Indonesia dilanda krisis tahun 1997 hingga 1998, Indonesia meminta saran dari IMF karena khawatir menjadi sebuah negara yang gagal karena tidak mampu membayar hutang. Kenapa negara <em>super power</em> tersebut tidak meminta saran dari IMF pula?</li>
<li>Kalau kondisinya sama dengan krisis di Indonesia, kenapa resep yang telah digunakan di Indonesia tidak digunakan juga di sana?</li>
<p>Dua hal diatas, semakin menunjukkan bahwa urat malu <span style="text-decoration:line-through;">di negara super power</span> telah putus. Bahkan tanpa malu-malu untuk <strong>menjilat ludah sendiri.</strong></p>
<li>Ketika sebuah perseroan rugi atau bangkrut, bukankah para pemilik yang harus menanggung seluruh kerugian tersebut? Bahkan pemilik harus membayar seluruh kerugian dengan menggunakan semua simpanan yang dimiliki? Lalu kemana keuntungan yang telah didapatkan pada tahun-tahun sebelumnya?</li>
<li>Ketika perseroan atau perusahaan untung, tidak banyak yang menikmati. Hanya <strong>segelintir</strong> orang yang berpesta pora.</li>
<li>Ketika perseroan atau perusahaan rugi, maka perseroan atau perusahaan itu akan mengajak orang banyak <span style="text-decoration:line-through;">dan semakin banyak semakin baik</span> untuk ikut merasakan kerugian yang dideritanya.</li>
</ol>
<p>Semakin banyak yang aku dapatkan, semakin bingunglah aku. Aku pengennya sich penjelasan yang mudah difahami oleh orang awam. Semakin mudah penjelasan maka semakin mudah pula untuk dijelaskan.</p>
<p>Ilustrasi berikut memberikan penjelasan kecil bagaimana saham, Credit Default Swap dan pelaku di sekitarnya. Tulisan ini merupakan interpretasi bebas dari <a href="http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/message/102547;_ylc=X3oDMTJ0YXByOW5jBF9TAzk3MzU5NzE1BGdycElkAzEzMDA2NzAyBGdycHNwSWQDMTcwNTA0MzY5NQRtc2dJZAMxMDI1NDcEc2VjA2Rtc2cEc2xrA3Ztc2cEc3RpbWUDMTIyMzUxMDYwMw--">sebuah thread di milis</a> dan tulisan dari <a href="http://http://money.cnn.com/2008/10/08/news/companies/AIG_loan.ap/index.htm?postversion=2008100817">sini</a> yang ada di <a href="http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas"> milis FPK</a>.</p>
<p><span id="more-40"></span></p>
<ol>
<li>Saham</li>
<p>Pada suatu waktu di sebuah desa yang cukup asri, seorang pria muncul dan  mengumumkan kepada penduduk desa bahwa dia akan membeli monyet seharga 10.000 tiap ekor.<br />
Penduduk desa mengetahui bahwa disekitar hutan tempat mereka tinggal terdapat banyak sekali monyet yang berkeliaran. Kenapa tidak ditangkap dan dijual saja, begitu pikiran para penduduk desa. Segera saja terjadi penangkapan monyet terbesar dalam sejarah desa tersebut.<br />
Sang pria membeli ribuan monyet tangkapan penduduk dengan harga 10.000. Ketika permintaan monyet mulai berkurang, penduduk desa pun memutuskan untuk mengurangi usaha penangkapan monyet. Mengetahui keadaan tersebut, sang pria tersebut kemudian mengumumkan bahwa dia akan membeli monyet-monyet tersebut seharga 20.000.<br />
Waow, naik 100%!!!<br />
Pengumuman tentang harga yang baru tersebut mampu membuat penduduk desa bergairah untuk kembali menangkapi monyet.<br />
Akan tetapi, segera saja permintaan monyet turun drastis. Hal ini membuat penduduk desa menjadi malas untuk menangkapi monyet dan ada sebagian penduduk yang lain yang kembali ke sawah dan ladang masing-masing untuk bercocok tanam.<br />
Penawaran pembelian monyet kemudian dinaikkan menjadi 25.000 tiap ekor. Akan tetapi permintaan terhadap monyet telah berkurang secara drastis.<br />
Seperti yang telah terjadi sebelumnya, sang pria tersebut menyatakan bahwa saat ini dia bersedia membeli satu monyet seharga 50.000! Akan tetapi, karena kepentingan bisnis sang pria di kota maka sang pria tersebut menunjuk seorang asisten yang akan membeli monyet-monyet tersebut atas nama sang pria tersebut.<br />
Selama ditinggal oleh sang pria tersebut, maka asisten itulah yang memiliki kekuasaan untuk membeli dan menjual monyet-monyet tangkapan penduduk. Kepada penduduk desa, asisten tersebut berkata “ Lihatlah, betapa banyaknya monyet-monyet yang ada di kandang ini. Ini semua milik sang pria tersebut. Daripada kalian menangkapi monyet-monyet di hutan sana, bagaimana kalau kalian membeli monyet &#8211; monyet ini? Kepada kalian, aku akan menjual monyet ini seharga 35.000. Hanya 35.000!! Dan ketika sang pria tersebut kembali dari kota, kalian dapat menjual kembali monyet-monyet tersebut dengan harga 50.000. Kalian akan mendapatkan untung 15.000 tiap ekor ketika sang pria tersebut kembali ke desa. Menarik bukan?”<br />
Siapa yang tidak ngiler dengan tawaran ini? Segera saja terjadi pembelian besar-besaran monyet oleh penduduk desa, tidak peduli bahwa untuk membeli monyet tersebut tabungan yang dimiliki ikut ludes.<br />
Tidak lama kemudian, ketika monyet-monyet tersebut telah terjual, penduduk desa tidak pernah lagi melihat sang asisten. Bahkan sang pria yang dijanjikan datangpun tidak pernah menampakkan batang hidungnya.<br />
Segera saja monyet – monyet tersebut menjadi tidak berharga sama sekali. Tentu saja Penduduk desa menjadi kalut dan panik. Kalut dan panik karena tabungan yang mereka miliki ludes untuk membeli monyet – monyet tersebut.</p>
<li>Credit Default Swap</li>
<p>Setelah penduduk desa panik dengan monyet-monyetnya, sang Asisten kembali dengan membawa beberapa Simpanse, tapi kali ini sang asisten meminta penduduk desa untuk melakukan proses ternak dengan janji keuntungan yang jauh lebih besar.<br />
Tapi kali ini Simpanse dilabeli bantuan Kepala Desa.<br />
Dan lebih gilanya lagi, karena monyet-monyet itu tidak kunjung laku dengan harga 50.000, sang Asisten bersedia melakukan <em>buyback</em> dengan harga 10.000 dan kemudian <span style="color:blue;">membedaki</span> <span style="color:red;">monyet &#8211; monyet</span> tersebut menjadi <span style="color:#993366;">simpanse</span> dan melempar lagi ke pasar. Tak lupa sang asisten dengan percaya diri mengatakan bahwa harga <span style="color:#993366;">simpanse</span> tersebut sebesar 100.000.<br />
Coba tebak dari mana sang Asisten mendapatkan modal? Dari sang Kepala Desa!! Atau lebih tepatnya dana iuran desa yang dibayar oleh penduduk desa.</ol>
<p>Bingung dengan ilustrasi tersebut?<br />
Ini nich cluenya :</p>
<ol>
<li>Monyet</li>
<p>Kredit Pemilikan Rumah dengan kualitas rendah (<em>subprime mortgage</em>)</p>
<li>Simpanse</li>
<p><strong>C</strong>redit <strong>D</strong>efault <strong>S</strong>wap</p>
<li>Penduduk Desa</li>
<p>Pemain pasar sekaligus Pembayar Pajak</p>
<li>Kepala Desa</li>
<p>Otoritas Bank Sentral</p>
<li>Asisten dan Sang Pria</li>
<p>Silahkan disimpulkan sendiri</ol>
<p>Bagiku sendiri, ini menunjukkan bahwa bermain saham tidak lebih dari permainan belaka. Dan ternyata banyak sekali orang yang ingin ikut permainan tersebut.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aansam.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aansam.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aansam.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aansam.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aansam.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aansam.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aansam.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aansam.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aansam.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aansam.wordpress.com/40/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aansam.wordpress.com&blog=910750&post=40&subd=aansam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aansam.wordpress.com/2008/10/15/saham-dan-cds-untuk-orang-lugu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6bb0a4175d6a120d3994f2e41c16d3a6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>AKKBB vs FPI (di Televisi)</title>
		<link>http://aansam.wordpress.com/2008/09/28/akkbb-vs-fpi-di-televisi/</link>
		<comments>http://aansam.wordpress.com/2008/09/28/akkbb-vs-fpi-di-televisi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Sep 2008 04:08:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aan Sam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Santai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aansam.wordpress.com/?p=34</guid>
		<description><![CDATA[Sebenarnya males juga nonton TV pagi ini, 26 September 2008. Kebetulan aja channel yang sedang aku tonton siaran Kabar Pagi di TVOne. Sekitar jam 5 pagi waktu Indonesia Barat.
Dalam salah satu sesinya, TV One menayangkan rekaman silat lidah dan tarik urat antara perwakilah AKKBB dan perwakilan FPI. Silat lidah yang difasilitasi oleh sebuah lembaga penyiaran [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aansam.wordpress.com&blog=910750&post=34&subd=aansam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Sebenarnya males juga nonton TV pagi ini, 26 September 2008. Kebetulan aja channel yang sedang aku tonton siaran Kabar Pagi di TVOne. Sekitar jam 5 pagi waktu Indonesia Barat.</p>
<p>Dalam salah satu sesinya, TV One menayangkan rekaman <strong>silat lidah <span style="text-decoration:line-through;">dan tarik urat</span></strong> antara <em>perwakilah AKKBB</em> dan <em>perwakilan FPI</em>. Silat lidah yang difasilitasi oleh sebuah lembaga penyiaran publik <span style="text-decoration:line-through;">dalam hal ini TV One</span> dan <em>ditonton</em> oleh pemirsa yang sangat beragam <span style="text-decoration:line-through;">karena aku tidak suka dengan istilah jutaan</span>, baik dari segi jumlah dan tingkat pendidikan maupun emosionalnya.</p>
<p>Permasalahan yang dibahas yaitu <em>Kericuhan antara aktivis AKKBB dan aktivis FPI ketika berlangsungnya sidang pengadilan atas <span style="text-decoration:line-through;">salah satu</span> pemimpin FPI di Jakarta</em>. Kejadian yang lantas menimbulkan bentrokan antar aktivis.</p>
<p>Apa yang aku dapatkan?</p>
<p><span id="more-34"></span><br />
Aku mendapatkan ini :</p>
<p><span style="color:#993366;"><strong>Pertunjukan emosi secara vulgar melalui media televisi</strong></span></p>
<p><span style="text-decoration:line-through;">aku merasa mungkin perlu dibuatkan juga sebuah UU Anti Emosi</span> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' />  <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Obrolan yang dilakukan tidak lebih dari sekedar debat kusir yang tidak berujung pangkal. Obrolan yang sangat <em>tidak</em> <em>menghargai etika</em> berdiskusi. Obrolan yang hanya membela emosi masing-masing. Obrolan yang sudah menghilangkan urat malu masing-masing pihak. Obrolan yang lebih mengedepankan anarkisme <span style="text-decoration:line-through;"> terhadap ide, gagasan, pendapat dan fakta</span> daripada akal sehat.</p>
<p>Aku yakin, kedua pihak tentunya memiliki tingkat pendidikan yang cukup memadai <span style="text-decoration:line-through;">untuk sekedar menyebut tingkat pendidikan yang tinggi</span>.<br />
Kenapa? AKKB dibentuk oleh sejumlah orang yang memiliki tingkat kepedulian yang tinggi terhadap bangsa dan <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Indonesia">negara tercinta ini</a>. Orang-orang yang membentuk AKKB pun tentulah bukan orang yang tidak berpendidikan sama sekali. Mengapa? Mereka mampu menyatukan sejumlah organisasi kemasyarakatan yang sangat beragam dalam waktu yang relatif cepat. Dan juga mampu mengarahkan AKKBB kepada satu tujuan bersama <span style="text-decoration:line-through;">common objective</span>. Suatu hal yang sangat sulit dilakukan oleh masyarakat dengan tingkat pendidikan yang kurang memadai.<br />
Sementara FPI dipimpin oleh seseorang yang memiliki tingkat pemahaman yang cukup tinggi terhadap suatu keyakinan tertentu. Tingginya tingkat pemahaman ini tentu didapatkan melalui suatu proses belajar yang sangat panjang.</p>
<p>Muncul pertanyaan <span style="text-decoration:line-through;">pertanyaanku sendiri</span>:</p>
<ol>
<li>Kenapa hal ini terjadi?</li>
<p>Aku mengamati bahwa masing-masing pihak mempertahankan <strong>argumen</strong> masing-masing yang diyakini sebagai argumen yang <strong><span style="text-decoration:line-through;">paling</span> benar</strong>. Oke, aku tidak mempermasalahkan argumen yang dilontarkan oleh masing-masing pihak.<br />
Lantas?<br />
Adu argumentasi akan sangat bermanfaat bagi pihak lain <span style="text-decoration:line-through;">terutama pihak yang sama sekali tidak terlibat</span> ketika masing-masing pihak <strong>saling menghormati</strong>. Klaim yang diajukanpun harus mendasarkan pada fakta yang ada. Argumen yang diberikan pun <span style="text-decoration:line-through;">sebaiknya</span> harus disampaikan dengan bahasa yang <em>lugas</em>, <em>tegas</em> dan<strong> </strong><em>singkat.</em></p>
<p>Sudah cukup banyak argumen yang bertebaran disekeliling kita. Argumen yang sangat berbusa-busa, penuh dengan kata-kata yang sangat panjang dan membingungkan.<br />
Mungkin saja ketika mengeluarkan argumen <span style="text-decoration:line-through;">atau statemen </span>tersebut, mereka menggunakan prinsip <em>semakin panjang dan semakin membingungkan orang lain, maka argumen itulah yang <strong>paling benar</strong></em>. <span style="text-decoration:line-through;">Mungkin <a href="http://aansam.wordpress.com/">blog-ku</a> ini juga termasuk penganut prinsip tersebut.</span></p>
<li>Mengapa hal tersebut dilakukan oleh mereka yang tingkat pendidikannya cukup memadai?</li>
<li>Ataukah hal tersebut dilakukan karena mereka tidak memahami etika berdiskusi?</li>
<p>Hmmmm, 2 pertanyaan tersebut yang agaknya sulit untuk dibuktikan secara formal <span style="text-decoration:line-through;">maupun non formal</span>. Pembuktiannya <span style="text-decoration:line-through;">menurutku sich</span> hanya berdasarkan akal sehat <span style="text-decoration:line-through;">dan suara hati</span>. Untuk memahami etika, tidak perlu dengan menunjukkan ijazah <span style="text-decoration:line-through;">maupun sertifikat</span> moral yang dikeluarkan oleh pihak-pihak yang berwenang  <span style="text-decoration:line-through;">seperti piagam atau sertifikat penataran P4; baik yang berasal dari institusi, akademisi maupun non akademisi</span>.</p>
<li>Mengapa tidak ada toleransi sama sekali?</li>
<p>Pernahkah masing-masing pihak merasakan perihnya orang lain yang tidak bersalah ketika menjadi korban atas pertikaian yang terjadi diantara mereka?<br />
Ketika mereka saling melempar batu, pernahkah mereka merasakan pedihnya pejalan kaki yang terhambat perjalanannya akibat perang batu tersebut?<br />
Pernahkah mereka merasakan sakitnya petugas keamanan yang terkena pukulan kalian? Sementara mereka <span style="text-decoration:line-through;">pejalan kaki dan petugas keamanan tersebut</span> <strong>sama sekali tidak mengerti</strong> apa yang kalian ributkan?<br />
Pernahkah mereka&#8230;.??<br />
Ah, masih perlukah mengajarkan toleransi kepada kalian, wahai kaum yang mengaku berpendidikan tetapi sangat senang berperilaku anarki?</ol>
<p>Dan itu yang terjadi dalam tayangan televisi yang aku nikmati pada pagi ini.</p>
<p>Inipun masih belum cukup.</p>
<p>Aku tidak menyukai satu hal lagi. Aku tidak hendak membela siapapun dalam hal ini. Aku hanya menuliskan opiniku saja. Tidak salah kan?</p>
<p><strong>Hobi untuk saling memotong pembicaraan orang lain</strong>.</p>
<p>Ini kentara sekali <span style="text-decoration:line-through;">dalam tayangan tersebut</span>. Ketika salah satu fihak sedang berbicara menyampaikan argumen dengan cara yang sangat tidak beradab <span style="text-decoration:line-through;">melalui kalimat-kalimat panjang dan membingungkan</span>, fihak yang lain menimpali dengan argumen yang tidak beradab <span style="text-decoration:line-through;">dengan menggunakan kalimat yang panjang dan membingungkan</span> pula.</p>
<p>Aku jadi teringat dengan salah satu pelajaran ketika masih di bangku sekolah.</p>
<blockquote><p>Sangat tidak sopan memotong pembicaraan orang lain, itu hanya menunjukkan bahwa kamu tidak beradab. Tunggu sampai orang tersebut menyelesaikan pembicaraannya baru kemudian giliran kamu untuk berbicara.</p></blockquote>
<p>Mungkin saja kedua pihak akan berargumen sebagai berikut :</p>
<ol type="a">
<li>Kebenaran harus disampaikan</li>
<p>Malah timbul pertanyaan, kebenaran yang mana? Kebenaran yang mem<strong>benar</strong>kan <strong>untuk memaki</strong> orang lain <span style="text-decoration:line-through;">sesama bangsa</span>? Kebenaran yang mem<strong>benar</strong>kan <strong>untuk menyakiti</strong> orang lain <span style="text-decoration:line-through;">sesama bangsa</span>? Kebenaran yang mem<strong>benar</strong>kan <strong>untuk bersikap anarki</strong> terhadap orang lain <span style="text-decoration:line-through;">sesama anak bangsa</span>? Kebenaran untuk me<strong>mulai keributan</strong> terhadap orang lain <span style="text-decoration:line-through;">sesama anak bangsa</span>?</p>
<li>Keadilan harus ditegakkan</li>
<p>Keadilan yang bagaimana? Keadilan untuk mem<strong>balas</strong> setiap perbuatan orang lain <span style="text-decoration:line-through;">sesama bangsa</span>? Keadilan untuk saling mem<strong>bunuh</strong> orang lain <span style="text-decoration:line-through;">sesama bangsa</span>?</p>
<li>Diskusi ini dilakukan di Televisi</li>
<p>Bukankah ini media yang tepat untuk menyampaikan fakta secara visual? Bukankah fakta visual <span style="text-decoration:line-through;">lebih</span> dipercaya oleh masyarakat <span style="text-decoration:line-through;">melalui media Televisi</span>? Ataukah karena sama sekali tidak ada waktu untuk melakukan persiapan <span style="text-decoration:line-through;">termasuk fakta visual</span>? Lantas, apakah media untuk menyampaikan gagasan hanya Televisi belaka?</p>
<li>Acara di Televisi dibatasi oleh durasi waktu</li>
<p>Semua ujian <span style="text-decoration:line-through;">tertulis maupun tidak tertulis</span> dibatasi oleh waktu. Kenapa tidak menggunakannya dengan cara yang <strong>cerdas</strong> dan <strong>elegan</strong>?<br />
Ataukah ini waktu yang tepat untuk menyampaikan argumen dan fakta <span style="text-decoration:line-through;">melalui argumen yang sangat panjang dan sangat membingungkan</span>?</ol>
<p>Tidak ada yang salah dengan argumen &#8211; argumen tersebut. Bahkan tidak menutup kemungkinan bahwa argumen tersebut akan terus bertambah dan senantiasa bertambah seiring perjalanan waktu.</p>
<p>Orang Jawa <span style="text-decoration:line-through;">dan aku besar serta dibesarkan di lingkungan dan adat istiadat budaya Jawa</span> seringkali  menyatakan</p>
<blockquote><p><strong><span style="color:blue;">ajining diri seko lathi</span></strong></p></blockquote>
<p>Maksudnya <strong>penghargaan pada diri berawal dari pembicaraan yang dilakukan</strong>; atau<strong> </strong>dalam bahasa singkat <strong>mulutmu harimaumu</strong></p>
<p>Jadi ingat lirik lagu Iwan Fals, entah apa judulnya aku lupa. Liriknya seperti ini :</p>
<blockquote><p>kenapa banyak orang ingin menang<br />
apakah itu hasil akhir kehidupan<br />
mengapa kekalahan menjadi aib<br />
apakah itu kesalahan manusia</p>
<p>demi kemenangan rela membunuh<br />
demi kemenangan rela memperkosa<br />
apa saja akan kamu tempuh<br />
agar kemenangan dapat diraihnya</p>
<p>kenapa kebenaran tidak lagi dicari<br />
sudah tak pentingkah bagi manusia<br />
apakah kebenaran tinggal kata-kata<br />
dari bibir pemenang-pemenang semu</p>
<p>aku menjadi lelah dan sangsi<br />
terhadap kemenangan-kemenangan itu</p>
<p>biarlah aku kalah<br />
asal tak memperkosa<br />
biar saja aku tak menang<br />
asal tak menginjak nuraninya</p>
<p>aku tidak ingin menang<br />
aku hanya ingin benar</p>
<p>walau harus menggali sukma bumi<br />
merenangi gelombang samudra</p></blockquote>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aansam.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aansam.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aansam.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aansam.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aansam.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aansam.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aansam.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aansam.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aansam.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aansam.wordpress.com/34/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aansam.wordpress.com&blog=910750&post=34&subd=aansam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aansam.wordpress.com/2008/09/28/akkbb-vs-fpi-di-televisi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6bb0a4175d6a120d3994f2e41c16d3a6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ganti Kacamata</title>
		<link>http://aansam.wordpress.com/2008/07/24/ganti-kacamata/</link>
		<comments>http://aansam.wordpress.com/2008/07/24/ganti-kacamata/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jul 2008 11:19:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aan Sam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Santai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aansam.wordpress.com/?p=30</guid>
		<description><![CDATA[Kalau salah seorang CEO sebuah penerbitan menulis buku berjudul Ganti Hati, maka seorang A&#8217;an Sam menulis di blog Ganti Kacamata
Ceritanya dimulai ketika beberapa hari yang lalu aku kehilangan kacamata. Kacamatanya gak seberapa besar ukurannya. Minus setengah aja. -0,5 pada kedua sisi mata. Inipun masih dapat diperdebatkan pengukurannya. Lha gimana gak diperdebatkan, diperiksa oleh seorang spesialis [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aansam.wordpress.com&blog=910750&post=30&subd=aansam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Kalau salah seorang CEO sebuah penerbitan menulis buku berjudul Ganti Hati, maka seorang A&#8217;an Sam menulis di blog Ganti Kacamata</p>
<p>Ceritanya dimulai ketika beberapa hari yang lalu aku kehilangan kacamata. Kacamatanya gak seberapa besar ukurannya. Minus setengah aja. -0,5 pada kedua sisi mata. Inipun masih dapat diperdebatkan pengukurannya. Lha gimana gak diperdebatkan, diperiksa oleh seorang spesialis mata ukuran lensa yang digunakan adalah -0,5; sementara ketika diperiksakan ke optik untuk membuat lensa ukuran lensa yang aku perlukan sebesar -0,75. Perbedaan hanya sekitar -0,25, gak lebih dari -2,00. Gak apa-apa lah, anggap saja koreksi dan angka toleransi.</p>
<p>Meskipun aku sudah divonis bahwa penglihatan jauh yang aku alami bermasalah, dokter menyatakan bahwa tidak menjadi masalah tanpa menggunakan alat bantu <span style="text-decoration:line-through;">kacamata</span>. Pandangan jarak dekat yang aku miliki masih berfungsi dengan <span style="text-decoration:line-through;">relatif</span> baik, itu alasan yang dikemukakan oleh seorang <span style="text-decoration:line-through;">wanita</span> dokter spesialis. Aku disarankan untuk menggunakan alat bantu <span style="text-decoration:line-through;">kaca mata</span> kalau memungkinkan <span style="text-decoration:line-through;">dan sudah ada uang untuk beli</span>. Lantas <em>second opinion</em> yang aku dapatkan, malah aku diminta untuk segera menggunakan alat bantu <span style="text-decoration:line-through;">kacamata</span> untuk meminimalkan resiko. Salah satu resiko jika aku tidak segera menggunakan alat bantu <span style="text-decoration:line-through;">kacamata</span> adalah bertambahnya ukuran lensa yang akan aku pergunakan.</p>
<p>Berdasarkan saran dari seorang <span style="text-decoration:line-through;">wanita</span> dokter spesialis dan <em>second opinion</em>, aku memilih untuk segera menggunakan alat bantu <span style="text-decoration:line-through;">kacamata</span>. Dan kebetulan pula, aku sudah memiliki sejumlah uang untuk menebus sang alat bantu <span style="text-decoration:line-through;">kacamata</span>. Yang ada dalam pikiranku adalah membeli kacamata dengan harga yang seefektif mungkin. Aku tidak berfikir tentang <em>fashionable</em>, <em>trendy</em>, <em>up to date</em> ataupun gengsi. Fungsionalitas dan kualitas merupakan item yang menjadi pilihan utama dalam memilih alat bantu atau <span style="text-decoration:line-through;">kacamata</span>.</p>
<p>Salah seorang saudara dekat, aku disarankan untuk menuju ke sebuah optik. Optik yang dimaksudkan berada di kawasan permukiman yang cukup asri dan bertempat di sekitar kawasan Stasiun Lempuyangan Yogyakarta. Promosinya adalah <span style="color:blue;">harga bersaing dengan kualitas setara optik terkemuka</span>.</p>
<p>Tuing&#8230;.tuing&#8230;&#8230;!!!!!!!<br />
<span id="more-30"></span><br />
Begitu masuk ke optik tersebut, aku kaget <span style="text-decoration:line-through;">maklum, biasa ketemu dengan tukang kacamata keliling</span>. Begitu banyak jenis frame yang tersedia. Dari yang berharga puluhan ribu rupiah <span style="text-decoration:line-through;">paling murah 50 ribu rupiah</span> hingga frame dengan harga ratusan ribu rupiah.<br />
Oleh pegawai optik dijelaskan juga bahwa harga frame tersebut belum termasuk harga lensa. Sedangkan harga lensa yang tersediapun bermacam-macam, disesuaikan dengan <span style="color:blue;">jenis bahan</span> dan <span style="color:purple;">ukuran lensa</span>. Bingung sendiri dech aku saat itu. Sadar dengan kebingunganku, pegawai di optik tersebut memberikan saran yang cukup menyejukkan. Aku sendiri yang baru kali ini memesan alat bantu <span style="text-decoration:line-through;">kacamata</span> di optik tersebut, bahkan disarankan agar aku membeli sendiri frame di luar optik jika kurang berkenan dengan model frame yang terdapat di optik tersebut. Dan salah satu kenyamanan di optik tersebut yaitu jam buka yang cukup panjang. Optik dibuka setiap hari hingga pukul 9 malam, tanpa libur.</p>
<p>Dengan pertimbangan efisiensi, aku memilih untuk memesan di optik tersebut. Setelah beberapa lama memilah dan memilih frame, aku lantas memilih sebuah frame seharga 70 ribu rupiah. Ya, frame seharga 70 ribu rupiah itulah yang mampu aku beli. Dan frame tersebut hanya cocok untuk diisi dengan lensa dari kaca.</p>
<p>Lantas bagaimana harga lensanya? Perbandingan harga lensa berdasarkan bahan dan ukuran lensa sesuai ukuranku <span style="text-decoration:line-through;">-0,5</span> adalah :</p>
<ol>
<li>Kaca</li>
<dd>Dibawah minus 2 seharga Rp. 50.000,00</dd>
<li>Plastik</li>
<dd>Dibawah minus 2 seharga Rp. 135.000,00 </dd>
</ol>
<p>Disesuaikan dengan kemampuanku, maka aku memilih lensa kacamata dengan bahan dari kaca. Kemudian aku diminta untuk diukur lagi berapa ukuran lensa kacamata yang aku pergunakan. Hasilnya, aku memilih untuk mengikuti resep dokter. Pegawai optik pun segera membuatkan pesanan alat bantu <span style="text-decoration:line-through;">kacamata</span> yang aku pesan.</p>
<p>Di optik tersebut aku membeli 2 buah benda sekaligus yaitu :</p>
<ol>
<li>Frame</li>
<dd>Seharga Rp. 70.000,00.</dd>
<li>Lensa</li>
<dd>Berbahan Kaca seharga Rp. 50.000,00.</dd>
</ol>
<p>Dengan masa tunggu sekitar 45 menit, jadilah kacamata pertama yang harus aku pergunakan. Dan memang segera aku pergunakan begitu keluar dari optik tersebut dengan perasaan aneh pada telinga sekaligus hidung sebelah atas.<br />
Jadilah aku menggunakan alat bantu <span style="text-decoration:line-through;">kacamata</span> untuk keperluan sehari-hari.</p>
<p>Kapan dan bagaimana kehilangannya?</p>
<p>Kejadian ini berlangsung selama aku main di kota Surabaya, Jawa Timur.</p>
<p>Mungkin kehilangan kacamata ini merupakan peringatan dari Yang Maha Kuasa sekaligus berakhirnya masa pengabdian sang kacamata pertama.<br />
Kebiasaanku untuk melepas kacamata sewaktu beribadah merupakan pilihan untuk menjaga agar kacamata tidak lekas pecah. Bagi aku sendiri, menggunakan kacamata untuk beribadah terasa aneh saja. Kurang lazim dan ada kesan tinggi hati.<br />
Dan kacamata pertama yang aku punya tertinggal di suatu masjid. Seperti biasa, kacamata aku lepaskan ketika aku menunaikan ibadah shalat. Usai shalat dan berdo&#8217;a, aku tidak langsung mengenakannya. Bahkan aku belum merasa ada yang aneh saat meninggalkan halaman masjid. Dengan percaya diri yang tinggi aku meninggalkan masjid tersebut. Dalam perjalanan aku masih merasa biasa saja. Ketika perjalanan memasuki jam yang ke-2, barulah perasaan aneh tersebut muncul. Perasaan bahwa ketika aku memandang kendaraan di kejauhan seperti bertumpuk-tumpuk. Padahal dalam jarak yang lumayan dekat, kendaraan-kendaraan tersebut muncul seperti aslinya.</p>
<p>Saat itulah aku tersadar bahwa aku sudah tidak mengenakan alat bantu <span style="text-decoration:line-through;">kacamata</span> lagi. Sambil terus berjalan, aku mencoba mengingat dimana terakhir kalinya sang kacamata tertinggal. Segera teringat bahwa sang kacamata tertinggal di masjid usah menunaikan ibadah shalat. Waow&#8230;&#8230; Terlintas dalam benakku untuk mencari kacamata tersebut. Dengan berbagai pertimbangan, aku tidak melakukannya saat itu juga. Bahkan aku berniat untuk mengikhlaskan sang kacamata pertama tersebut.</p>
<p>Keputusan selanjutnya adalah <span style="color:blue;">membeli kacamata baru</span>.</p>
<p>Belajar dari pengalaman memesan <span style="text-decoration:line-through;">sekaligus membeli</span> sang kacamata yang pertama, maka akupun melakukan hal-hal berikut :</p>
<ol>
<li>Bertanya ke Optik</li>
<dd>Aku berkunjung dari satu optik menuju optik yang lain. Biasanya yang aku tanyakan pertama kali ketika mengunjungi optik adalah <em>harga lensa</em>. Baru kemudian aku bertanya tentang harga frame, dari yang paling murah hingga paling mahal. Aku juga sempat mencoba beragam jenis frame. Mencoba saja, sesuai tidak dengan bentuk muka <span style="text-decoration:line-through;">atau wajah</span> pemberian Tuhan kepada makhluknya ini <span style="text-decoration:line-through;">bacanya : aku</span>. Kayaknya aku agak banyak mencoba frame di optik. Cuma mencoba.</dd>
<dd>Rentang harga lensa <em>dengan ukuran dibawah minus 2</em> adalah :</p>
<ul>
<li>Bahan Kaca</li>
<dd> Rp. 65.000,00 hingga Rp. 150.000,00</dd>
<li>Bahan Plastik</li>
<dd>Rp. 120.000,00 hingga Rp. 300.000,00</dd>
</ul>
<li>Beli Frame di pinggir jalan</li>
</dd>
<dd>Aku tidak malu mengakui bahwa frame yang aku pergunakan saat ini adalah produk pinggir jalan. Dengan harga Rp. 15.000,00 aku dapat memilih frame yang aku suka. Bahkan aku mendapatkan bonus dari frame yang aku beli di pinggir jalan tersebut. Apa? Lensa. </dd>
<dd>Frame yang dijual di pinggir jalan tersebut biasanya sudah di bundel dengan lensa dengan ukuran tertentu. Dari +1 hingga +3. Banyak model yang tersedia. Kalaupun tidak suka dengan model di salah satu optik jalanan tersebut, dengan enak aku akan pergi ke optik jalanan yang lain. Mungkin kalau di optik &#8211; optik resmi, aku akan merasa malu <span style="text-decoration:line-through;">karena hanya bertanya dan belum pasti membeli</span>.</p>
<li>Pesan lensa termurah di optik</li>
</dd>
<dd>Sambil membawa frame yang aku beli di optik jalanan, baru kemudian memasuki optik resmi. Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari kegiatan no. 1 diatas. Dari hunting dari satu optik ke optik tersebut, aku mendapatkan sejumlah optik dengan harga yang terjangkau. Selesaikah kegiatan dengan memesan saja? Belum. Bagaimana memasangnya?</dd>
<dd>Dari pengalaman memesan sang kacamata pertama <span style="text-decoration:line-through;">dan anjuran dari salah satu optik</span>, aku mendapatkan pernyataan menarik . Pernyataannya adalah <em>waktu pembuatan lensa dan pemasangan tidak lebih dari 1 jam</em>. Pernyataan tersebut menjadi panduan bagi aku dalam memilih optik untuk memesan lensa. Dan aku memanfaatkan benar-benar pernyataan tersebut.</dd>
<dd>Hasilnya? Kacamata baruku selesai dalam waktu 45 menit. Dan aku gak lupa untuk minta di <em>setel</em>. Keluar dari optik, aku sudah menggunakan kacamata baru dengan <span style="color:blue;">frame murah meriah</span> dan <span style="color:blue;">lensa termurah</span>.</dd>
</ol>
<p>Sejak saat itu, ketika shalat aku berusaha untuk tetap menggunakan kacamata. Hal ini berlaku ketika aku sedang bermain ke suatu tempat dan melakukan shalat di sembarang mushola ataupun masjid. Ketika wudhu, sang kacamata aku letakkan di saku baju yang aku kenakan. Usai wudhu, kupergunakan kembali sang kacamata.</p>
<p>Melalui kacamata baru ini, aku merasa Tuhan Sang Penguasa mengingatkan aku untuk senantiasa sadar dengan kemampuan diri. Ada batas-batas tertentu yang dapat aku lalui. Ketika batasan itu belum dapat aku lalui, Tuhan meminta aku untuk mencari jalan lain. Kalaupun jalan lain tersebut tidak tersedia, maka batasan itu <strong>harus</strong> aku lalui dengan segenap kemampuan yang aku miliki.</p>
<p>Terima Kasih Tuhan Sang Penguasa.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/aansam.wordpress.com/30/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/aansam.wordpress.com/30/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aansam.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aansam.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aansam.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aansam.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aansam.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aansam.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aansam.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aansam.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aansam.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aansam.wordpress.com/30/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aansam.wordpress.com&blog=910750&post=30&subd=aansam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aansam.wordpress.com/2008/07/24/ganti-kacamata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6bb0a4175d6a120d3994f2e41c16d3a6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Merokok dan Pilihan</title>
		<link>http://aansam.wordpress.com/2008/05/27/merokok-dan-pilihan/</link>
		<comments>http://aansam.wordpress.com/2008/05/27/merokok-dan-pilihan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 May 2008 17:55:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aan Sam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Santai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aansam.wordpress.com/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[Kali ini aku pengen nulis tentang rokok. Ya, ROKOK.
Kenapa?
Gak tahu kenapa aku pengen aja nulis tentang rokok. Aku pengen aja berbagi tulisan tentang rokok.
Lantas?
Kalaupun aku menulis tentang rokok dan bahaya merokok, mungkin ada baiknya aku gak menulis tentang ini. Aku tidak menulis tentang itu.
Aku juga tidak akan nulis tentang manfaat rokok, baik untuk diri sendiri [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aansam.wordpress.com&blog=910750&post=29&subd=aansam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Kali ini aku pengen nulis tentang rokok. Ya, ROKOK.<br />
Kenapa?<br />
Gak tahu kenapa aku pengen aja nulis tentang rokok. Aku pengen aja berbagi tulisan tentang rokok.<br />
Lantas?<br />
Kalaupun aku menulis tentang rokok dan bahaya merokok, mungkin ada baiknya aku gak menulis tentang ini. Aku tidak menulis tentang itu.<br />
Aku juga tidak akan nulis tentang manfaat rokok, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Sudah terlalu banyak tulisan tentang hal tersebut.</p>
<p>Trus yang pengen aku tulis apa?<br />
<span id="more-29"></span><br />
Aku pengen share aja bahwa merokok itu merupakan pilihan. Pilihan kegiatan bagi kita saat ini yang <em>mungkin</em> bepengaruh pada kehidupan yang kita jalani.<br />
Aku <strong>dulu</strong> seorang perokok aktif. Bahkan aku mulai merokok ketika berusia 13 tahun, tepatnya ketika mulai SMP. Kegiatan yang berlanjut hingga aku berusia 20 tahun <span style="text-decoration:line-through;">tentunya dengan sembunyi-sembunyi, aku tidak berani merokok di hadapan orang tuaku karena orang tuaku tidak merokok</span>. Kemudian aku berhenti merokok selama 7 tahun. Merokok lagi selama 2 tahun dan berhenti <strong>lagi </strong>hingga saat ini <span style="text-decoration:line-through;">Insya Allah seterusnya</span>.<br />
Syukur, aku mampu berhenti.</p>
<p>Ada satu cerita menarik tentang bagaimana cara meminta seseorang untuk berhenti merokok. Tulisan ini aku ambil dari buku yang ditulis oleh Deddy Corbuzier <span style="text-decoration:line-through;">salah satu mentalis Indonesia</span>.</p>
<p><span style="color:blue;"><br />
Ada seorang pria mapan yang sudah berkeluarga dan memiliki seorang istri yang cantik. Mereka telah dikaruniai seorang anak perempuan yang berusia 14 tahun bernama Mala. Pria tersebut adalah seorang perokok berat. Setiap hari sang istri mengeluhkan kebiasaan sang suami tersebut. Dokter pun telah mengingatkan bahaya merokok bagi kesehatannya di masa mendatang. Namun sang ayah hanya diam dan meneruskan kebiasaan merokoknya.<br />
&#8216;Aku merokok dengan uangku sendiri, koq orang lain yang susah..&#8217; begitu pemikiran sang ayah.<br />
Berbagai pilihan untuk berhenti merokok telah dilontarkan oleh sang istri. Ketika pilihan dari sang istri adalah meninggalkannya kalau ia tetap merokok, maka sang suami pun berhenti merokok. Sayangnya, ia hanya berhenti merokok ketika berada di rumah atau ketika bersama sang istri. Kebiasaan merokok tetap dilanjutkan, bahkan menjadi seorang perokok yang superaktif.<br />
Sang istri pun lelah memperingatkan.</span></p>
<p><span style="color:blue;">Bagaimanapu, suatu malam, ketika pria itu sedang menonton televisi dan terbatuk-batuk sambil menghisap rokok, anaknya yang masih berusia 14 tahun itu keluar dari kamarnya. Mala menangis keras. Dengan paksa direbutnya rokok sang ayah.<br />
&#8220;Papa,&#8221; ucap Mala.<br />
&#8220;Tolonglah papa berhenti membunuh diri papa sendiri&#8230;.&#8221; isak Mala.<br />
&#8220;Mala ingin papa ada di sana ketika Mala sudah besar dan hendak menikah&#8230;.&#8221;<br />
&#8220;Mala ingin papa ada untuk anak &#8211; anak Mala nanti&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Mala gak ingin kehilangan papa terlalu cepat&#8230;.&#8221;</span></p>
<p><span style="color:blue;">Sejak hari itu pria tersebut berhenti merokok.<br />
</span></p>
<p>Aku bersyukur, aku telah mampu berhenti untuk tidak merokok.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/aansam.wordpress.com/29/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/aansam.wordpress.com/29/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aansam.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aansam.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aansam.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aansam.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aansam.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aansam.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aansam.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aansam.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aansam.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aansam.wordpress.com/29/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aansam.wordpress.com&blog=910750&post=29&subd=aansam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aansam.wordpress.com/2008/05/27/merokok-dan-pilihan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6bb0a4175d6a120d3994f2e41c16d3a6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sebuah Do&#8217;a</title>
		<link>http://aansam.wordpress.com/2008/03/17/sebuah-doa/</link>
		<comments>http://aansam.wordpress.com/2008/03/17/sebuah-doa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Mar 2008 18:17:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aan Sam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serius]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aansam.wordpress.com/2008/03/17/sebuah-doa/</guid>
		<description><![CDATA[ Mungkin lebih tepat jika diberi judul  Do&#8217;a Untukmu.
  Allah Yang Maha Pemurah, Terima Kasih Engkau telah menciptakan dia dan mempertemukan aku dengan  dirinya.
Terima Kasih untuk saat &#8211; saat indah yang boleh kami nikmati bersama. Terima Kasih untuk setiap pertemuan yang telah kami lalui bersama. Terima Kasih untuk setiap saat &#8211; saat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aansam.wordpress.com&blog=910750&post=28&subd=aansam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><font size="+1"> Mungkin lebih tepat jika diberi judul <b> <font color="blue">Do&#8217;a Untukmu</font></b>.</font></p>
<blockquote><p> <font size="-1"> Allah Yang Maha Pemurah, Terima Kasih Engkau telah menciptakan dia dan mempertemukan aku dengan  dirinya.<br />
Terima Kasih untuk saat &#8211; saat indah yang boleh kami nikmati bersama. Terima Kasih untuk setiap pertemuan yang telah kami lalui bersama. Terima Kasih untuk setiap saat &#8211; saat yang lalu. </font></p>
<p><font size="-1"> Ya Allah, jika aku bukan pemilik tulang rusuknya, jangan biarkan aku merindukan kehadirannya. Jangan biarkan aku melabuhkan hatiku  di hatinya. Kikislah pesonanya dari pelupuk mataku dan usirlah dia dari relung hatiku. Gantilah damba kerinduan dan cinta yang bersemayam di dada ini dengan kasih dari dan pada-Mu yang tulus dan murni. Tolonglah aku agar dapat mengasihinya sebagai sahabat. </font></p>
<p><font size="-1">Tetapi jika Kau ciptakan dia untukku, Yaa Allah, tolong satukan hati kami. Bantulah aku untuk mencintai, mengerti dan menerima dia seutuhnya. Berikan aku kesabaran, ketekunan dan kesungguhan untuk merebut hatinya. Letakkan di hati agar dia juga mencintaiku, mengerti dan mau menerima aku dengan segala kelebihan dan kekuranganku sebagaimana aku telah Kau ciptakan. Yakinkanlah dia bahwa aku sungguh &#8211; sungguh mencintai dan rela membagi suka dan dukaku dengan dia.</font></p>
<p><font size="-1"> Yaa Allah Maha Pengasih, dengarlah doaku ini. Lepaskanlah aku dari keraguan ini menurut kasih dan kehendak-Mu.<br />
Allah Yang Maha Kekal, aku tahu Engkau senantiasa memberikan yang terbaik buatku. Luka dan keraguan yang aku alami pasti ada hikmahnya. Pergumulan ini mengajari aku untuk hidup makin dekat pada-Mu, untuk lebih peka terhadap suara-Mu yang membimbing aku menuju terang-Mu. </font></p>
<p><font size="-1">Ajarlah aku untuk tetap setia dan sabar menanti tibanya waktu yang telah Engkau tentukan. Jadilah kehendak-Mu dan bukan kehendakku yang jadi; dalam setiap bagian hidupku Yaa Allah. Amin&#8230;..</font></p></blockquote>
<p>Postingan ini aku dedikasikan untuk seorang <b>sahabat</b> yang telah menikah pada 9 Februari 2008.<br />
Ma&#8217;afkan aku sahabat, aku masih belum mampu memberikan kado apapun pada pernikahan kalian. Aku memang bukan sahabat yang baik bagi kalian. Dan kalian tetap sahabat baikku.</p>
<p>Sekali lagi, <font color="green" size="+1">Ma&#8217;afkan aku</font>.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/aansam.wordpress.com/28/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/aansam.wordpress.com/28/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aansam.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aansam.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aansam.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aansam.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aansam.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aansam.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aansam.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aansam.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aansam.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aansam.wordpress.com/28/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aansam.wordpress.com&blog=910750&post=28&subd=aansam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aansam.wordpress.com/2008/03/17/sebuah-doa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6bb0a4175d6a120d3994f2e41c16d3a6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kemaruk Posting</title>
		<link>http://aansam.wordpress.com/2008/03/12/kemaruk-posting/</link>
		<comments>http://aansam.wordpress.com/2008/03/12/kemaruk-posting/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Mar 2008 17:31:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aan Sam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Santai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aansam.wordpress.com/2008/03/12/kemaruk-posting/</guid>
		<description><![CDATA[Iseng &#8211; iseng nengok blog sendiri.
Wah, ternyata aku menderita penyakit kemaruk posting. Lihat saja bulan ini. Dalam satu hari tercatat ada 4 tulisan baru di blog ini.
He&#8230;he&#8230;
Salah kah hal ini?

Jawaban paling selfish adalah tidak.
Kenapa?
Lha emang ini blog punyaku sendiri. Terserah aku sendiri dong, sekali posting 1 tulisan atau 2 tulisan, gak apa &#8211; apa kan&#8230; [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aansam.wordpress.com&blog=910750&post=27&subd=aansam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Iseng &#8211; iseng nengok blog sendiri.</p>
<p>Wah, ternyata aku menderita penyakit <i>kemaruk</i> posting. Lihat saja bulan ini. Dalam satu hari tercatat ada 4 tulisan baru di blog ini.</p>
<p>He&#8230;he&#8230;<br />
Salah kah hal ini?<br />
<span id="more-27"></span></p>
<p>Jawaban paling <i>selfish</i> adalah <b>tidak</b>.</p>
<p>Kenapa?<br />
Lha emang ini blog punyaku sendiri. Terserah aku sendiri dong, sekali posting 1 tulisan atau 2 tulisan, gak apa &#8211; apa kan&#8230; Gak ada yang melarang.</p>
<p><strike>Karena yang dilarang adalah <i>spam</i></strike>.</p>
<p><font color="cyan"><br />
The story behind posting</font></p>
<p>Kalau boleh cerita sedikit tentang bagaimana aku menulis di blog ini, mungkin ada baiknya aku cerita bagaiamana tulisan ini aku buat. Lepas dari bagaimana asalnya aku mendapatkan ide, inspirasi <strike>whatever, you name it</strike> dan lain sebagainya.</p>
<p>Secara sederhana, tulisan ini aku buat dalam 2 versi yaitu :</p>
<ol>
<li>Online</li>
<dd>Tulisan yang anda baca saat ini, ketika terhubung dengan jaringan dunia maya.</dd>
<li>Offline</li>
<dd>Tulisan yang aku buat ketika aku <strike>offline</strike> tidak terhubung dengan jaringan dunia maya. </dd>
<dd>Kebetulan aja, saat ini aku masih memiliki sebuah PC. Nah, di PC inilah aku menuliskan segala sesuatunya terlebih dahulu sebelum aku meng<i>upload</i>nya. Kalau aku merasa tulisan ini sudah layak untuk ditampilkan, kemudian aku pergi ke warnet untuk meng<i>online</i>kan tulisan &#8211; tulisan tersebut. Biasanya tulisan yang ada aku jadikan dalam sebuah file. Sehingga ketika pergi ke warnet, sudah banyak tulisan yang ter<i>file</i>kan.</dd>
<dd>Karena proses <i>copy paste</i> jauh lebih singkat dibandingkan <strike>proses</strike> menulis, makanya dalam satu kali proses <i>upload</i> lebih dari 1 tulisan tertampilkan. </dd>
</ol>
<p><font color="blue"><br />
Yah, ini cuma sekedar alasan klise aja dari seorang penikmat dunia maya yang pengen ngirit.<br />
</font></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/aansam.wordpress.com/27/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/aansam.wordpress.com/27/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aansam.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aansam.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aansam.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aansam.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aansam.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aansam.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aansam.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aansam.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aansam.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aansam.wordpress.com/27/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aansam.wordpress.com&blog=910750&post=27&subd=aansam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aansam.wordpress.com/2008/03/12/kemaruk-posting/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6bb0a4175d6a120d3994f2e41c16d3a6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Uang (milik) Tuhan!!!</title>
		<link>http://aansam.wordpress.com/2008/03/07/uang-milik-tuhan/</link>
		<comments>http://aansam.wordpress.com/2008/03/07/uang-milik-tuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Mar 2008 15:18:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aan Sam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Santai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aansam.wordpress.com/2007/09/23/uang-milik-tuhan/</guid>
		<description><![CDATA[Cerita ini aku sadur dari kiriman seorang teman. Makasih teman, Inspiring dech ceritamu. Ia ngasih judul seperti judul tulisan ini.
Setelah menerima 2 buah uang dari mamanya, Doni mencium kedua pipi Mamanya. Doni melangkah keluar rumah untuk berangkat Sekolah Minggu di Gereja dekat rumahnya.
Sepanjang perjalanan Doni mengingat &#8211; ingat kemana uang yang ada di tangannya itu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aansam.wordpress.com&blog=910750&post=22&subd=aansam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Cerita ini aku sadur dari kiriman seorang teman. Makasih teman, Inspiring dech ceritamu. Ia ngasih judul seperti judul tulisan ini.</p>
<blockquote><p>Setelah menerima 2 buah uang dari mamanya, Doni mencium kedua pipi Mamanya. Doni melangkah keluar rumah untuk berangkat Sekolah Minggu di Gereja dekat rumahnya.</p>
<p>Sepanjang perjalanan Doni mengingat &#8211; ingat kemana uang yang ada di tangannya itu harus dipergunakan.</p>
<p>&#8220;Doni, ingat ya..&#8221; ujar Mama Doni.<br />
&#8220;Yang kanan untuk Kolekte, yang kiri untuk jajan.&#8221;<br />
&#8220;Iya Ma, Doni ingat koq,&#8221; jawab Doni.</p>
<p>&#8220;Yang kanan untuk Kolekte, yang kiri untuk jajan,&#8221; Doni menjawab dan mengangguk yakin.</p>
<p>Doni menghafalkan pesan ibunya sepanjang perjalanannya menuju Sekolah Minggu. Doni mengucapkannya berkali &#8211; kali di sepanjang jalan.</p>
<p>Tanpa disadarinya, kaki Doni terantuk batu sehingga uang yang ada di tangan kirinya terlempar jauh. Doni kaget dan memandangi uang logamnya yang terlempar dari tangannya. Doni lebih kaget lagi ternyata uang logamnya terlempar hingga masuk ke got yang penuh dengan lumpur hitam.</p>
<p>Tahu apa yang dilakukan oleh Doni??<br />
Sambil memandang ke arah langit, Doni berkata :<br />
&#8220;Tuhan, itu uangmu lhooo&#8230;&#8230;..&#8221;</p></blockquote>
<p>Bagaimana dengan kita?</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/aansam.wordpress.com/22/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/aansam.wordpress.com/22/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aansam.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aansam.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aansam.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aansam.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aansam.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aansam.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aansam.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aansam.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aansam.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aansam.wordpress.com/22/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aansam.wordpress.com&blog=910750&post=22&subd=aansam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aansam.wordpress.com/2008/03/07/uang-milik-tuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6bb0a4175d6a120d3994f2e41c16d3a6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Burung Gagak dan Kenangan Seorang Ayah</title>
		<link>http://aansam.wordpress.com/2008/03/07/burung-gagak-dan-kenangan-seorang-ayah/</link>
		<comments>http://aansam.wordpress.com/2008/03/07/burung-gagak-dan-kenangan-seorang-ayah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Mar 2008 15:15:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aan Sam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serius]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aansam.wordpress.com/2008/03/07/burung-gagak-dan-kenangan-seorang-ayah/</guid>
		<description><![CDATA[Masih sama dengan tulisan sebelumnya, kali ini hasil saduran dari milis ini.
 Pada suatu petang seorang tua bersama anak mudanya yang baru menamatkan pendidikan tinggi duduk berbincang-bincang di halaman sambil memperhatikan suasana di sekitar mereka.
Tiba-tiba seekor burung gagak hinggap di ranting pokok berhampiran.
Si ayah lalu menuding jari ke arah gagak sambil bertanya,
&#8220;Nak, apakah benda itu?&#8221;
&#8220;Burung [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aansam.wordpress.com&blog=910750&post=26&subd=aansam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Masih sama dengan tulisan sebelumnya, kali ini hasil saduran dari <a href="http://groups.yahoo.com/group/JIS-DIJ/message/2424;_ylc=X3oDMTJxbGQ3aGo1BF9TAzk3MzU5NzE1BGdycElkAzkwMzU0ODUEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MDgyMTc4BG1zZ0lkAzI0MjQEc2VjA2Rtc2cEc2xrA3Ztc2cEc3RpbWUDMTIwMDEzODc0MA--">milis ini</a>.</p>
<blockquote><p> Pada suatu petang seorang tua bersama anak mudanya yang baru menamatkan pendidikan tinggi duduk berbincang-bincang di halaman sambil memperhatikan suasana di sekitar mereka.</p>
<p>Tiba-tiba seekor burung gagak hinggap di ranting pokok berhampiran.<br />
Si ayah lalu menuding jari ke arah gagak sambil bertanya,<br />
&#8220;Nak, apakah benda itu?&#8221;<br />
&#8220;Burung gagak&#8221;, jawab si anak.</p>
<p>Si ayah mengangguk-angguk, namun sejurus kemudian sekali lagi mengulangi pertanyaan yang sama. Si anak menyangka ayahnya kurang mendengar jawabannya tadi lalu menjawab dengan sedikit kuat,<br />
&#8220;Itu burung gagak, Ayah!&#8221;</p>
<p>Tetapi sejurus kemudian si ayah bertanya lagi pertanyaan yang sama. Si anak merasa agak keliru dan sedikit bingung dengan pertanyaan yang sama diulang-ulang, lalu menjawab dengan lebih kuat, &#8220;BURUNG GAGAK!!&#8221;</p>
<p>Si ayah terdiam seketika. Namun tidak lama kemudian sekali lagi sang ayah mengajukan  pertanyaan yang serupa hingga membuat si anak hilang kesabaran dan menjawab dengan nada<br />
yang kesal kepada si ayah, &#8220;Itu gagak, Ayah.&#8221;</p>
<p>Tetapi agak mengejutkan si anak, karena si ayah sekali lagi membuka mulut hanya untuk bertanya hal yang sama. Dan kali ini si anak benar-benar hilang sabar dan menjadi marah.<br />
&#8220;Ayah!!! Saya tak tahu Ayah paham atau tidak. Tapi sudah 5 kali Ayah bertanya soal hal tersebut dan saya sudah juga memberikan jawabannya. Apa lagi yang Ayah mau saya katakan???? Itu burung gagak, burung gagak Ayah&#8230;..&#8221;, kata si anak dengan nada yang begitu marah.</p>
<p>Si ayah lalu bangun menuju ke dalam rumah meninggalkan si anak yang kebingungan. Sesaat kemudian si ayah keluar lagi dengan sesuatu di tangannya. Dia mengulurkan benda itu kepada anaknya yang masih geram dan bertanya-tanya. Diperlihatkannya sebuah diary lama.</p>
<p>&#8220;Coba kau baca apa yang pernah Ayah tulis di dalam diary ini,&#8221; pinta si Ayah. Si anak setuju dan membaca paragraf yang berikut.<br />
<i> <font color="#008080"><br />
Hari ini aku di halaman melayani anakku yang genap berumur lima tahun. Tiba-tiba seekor gagak hinggap di pohon berhampiran. Anakku terus menunjuk ke arah gagak dan bertanya, &#8220;Ayah, apa itu?&#8221;<br />
Dan aku menjawab, &#8220;Burung gagak.&#8221;<br />
Walau bagaimana pun, anakku terus bertanya soal yang serupa dan setiap kali aku menjawab dengan jawaban yang sama. Sehingga 25 kali anakku bertanya demikian. Demi rasa cinta dan sayangku aku terus menjawab untuk memenuhi perasaan ingin tahunya. Aku berharap hal ini menjadi suatu pendidikan yang berharga untuk anakku kelak.<br />
</font></i><br />
Setelah selesai membaca paragraf tersebut si anak mengangkat muka memandang wajah si Ayah yang kelihatan sayu.</p>
<p>Si Ayah dengan perlahan bersuara, &#8221; Hari ini Ayah baru bertanya kepadamu soal yang sama sebanyak 5 kali, dan kau telah hilang kesabaran serta marah.&#8221;</p></blockquote>
<p>Ah, aku merasa kalau aku masih belum mampu menjadi seorang anak yang baik. Aku masih belum mampu memberikan yang terbaik untuk kedua orang tuaku.</p>
<p>Memang sich, saat ini kemampuanku masih sebatas memberikan <b>DO&#8217;A</b> bagi kedua orang tuaku. Mungkin saat ini Tuhan meminta aku untuk mencari sesuatu yang terbaik dari aku untuk diberikan kepada kedua orang tuaku. Atau barangkali Tuhan telah menunjukkan dan aku sendiri yang masih belum tahu?</p>
<p>Selamat Belajar An&#8230;</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/aansam.wordpress.com/26/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/aansam.wordpress.com/26/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aansam.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aansam.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aansam.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aansam.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aansam.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aansam.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aansam.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aansam.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aansam.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aansam.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aansam.wordpress.com&blog=910750&post=26&subd=aansam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aansam.wordpress.com/2008/03/07/burung-gagak-dan-kenangan-seorang-ayah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6bb0a4175d6a120d3994f2e41c16d3a6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Trik Mempercepat Loading Open Office.org</title>
		<link>http://aansam.wordpress.com/2008/03/07/trik-mempercepat-loading-open-officeorg/</link>
		<comments>http://aansam.wordpress.com/2008/03/07/trik-mempercepat-loading-open-officeorg/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Mar 2008 15:15:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aan Sam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serius]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aansam.wordpress.com/2008/03/07/trik-mempercepat-loading-open-officeorg/</guid>
		<description><![CDATA[Bagi aku, pengguna Open Office di  Ubuntu Linux, waktu yang diperlukan untuk membuka aplikasi OpenOffice.org sangatlah lama. Hampir 1 menit rasanya. Apalagi di mesin jadul (P3-450 MHz) yang masih setia aku gunakan.
Iseng aja aku mainin menu &#8211; menu yang ada di Open Office.org. Dan menu &#8211; menu yang aku mainkan adalah :

Buka Open Office.org
Menu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aansam.wordpress.com&blog=910750&post=25&subd=aansam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Bagi aku, pengguna <a href="http://www.openoffice.org">Open Office</a> di  <a href="http://www.ubuntu.com">Ubuntu</a> <a href="http://www.linux.org">Linux</a>, waktu yang diperlukan untuk membuka aplikasi OpenOffice.org sangatlah lama. Hampir 1 menit rasanya. Apalagi di mesin jadul (P3-450 MHz) yang masih setia aku gunakan.</p>
<p>Iseng aja aku mainin menu &#8211; menu yang ada di Open Office.org. Dan menu &#8211; menu yang aku mainkan adalah :</p>
<ol>
<li>Buka Open Office.org</li>
<dd>Menu Applications &gt; Office &gt; OpenOffice.org Word Processor </dd>
<li>Pilih Menu Option di Open Office.org</li>
<dd>Tools &gt; Options</dd>
<li>Pada Menu Option pilih Open Office.org</li>
<dd>Pada panel sebelah kiri terdapat menu &#8211; menu : OpenOffice.org, Load/Save, Language Settings, dan lain &#8211; lain. Pilih saja Open Office.org.</dd>
<li>Pilih Sub Menu Memory
<dd>Pada menu ini aku merubah nilai &#8211; nilai yang ada.</dd>
<ol>
<li>Undo</li>
<dd>Number of steps aku ubah menjadi 20 </dd>
<li>Graphic Cache</li>
<dd>Use for Open Office.org, aku ubah menjadi 12 MB.</dd>
<li>Cache for inserted objects</li>
<dd>Number of objects aku ubah menjadi 10.</dd>
</ol>
</li>
<li>Selesai</li>
<dd>Klik OK</dd>
<li>Tutup Open Office.org</li>
<dd>File &gt; Quit</dd>
<li>Buka kembali Open Office.org</li>
<dd>Applications &gt; Office &gt; OpenOffice.org Word Processor </dd>
</ol>
<p>Rasakan bedanya. Di mesin yang aku miliki, cukup lumayan juga perbedaannya. Meskipun aku sendiri sadar sich kalo pengen lebih cepat, maka RAM yang terpasang di mesinku harus ditambah dari kapasitas yang ada sekarang.<br />
Di mesin yang aku pakai, RAM yang terpasang masih 128 MB. Untuk aktivitas sehari &#8211; hari, aku merasa kapasitas yang ada sudah lebih dari cukup. Gak mau terlalu serakah dengan memperbesar kapasitas RAM (baca <strong>belum punya uang untuk beli RAM</strong>).</p>
<p>Akhir kata, <span style="color:green;font-size:x-small;">SELAMAT MENCOBA</span>.</p>
<p><code><br />
Tulisan ini juga hasil berguru kepada <a href="http://groups.google.com/group/id-ubuntu/browse_thread/thread/24ea11402a2979ca?hl=id"> Om Sabri di milis </a> dan <a href="http://majalah-linux.baliwae.com/2007/11/12/tips-mempercepat-startup-dan-performa-openoffice-hingga-10-kali-lipat/"> Om Budi Bali wae</a><br />
Terima Kasih Om....<br />
</code></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/aansam.wordpress.com/25/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/aansam.wordpress.com/25/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aansam.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aansam.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aansam.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aansam.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aansam.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aansam.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aansam.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aansam.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aansam.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aansam.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aansam.wordpress.com&blog=910750&post=25&subd=aansam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aansam.wordpress.com/2008/03/07/trik-mempercepat-loading-open-officeorg/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6bb0a4175d6a120d3994f2e41c16d3a6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aan</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>