Pengalaman(ku) dengan Edgy Eft

15 Januari 2009 oleh Aan Sam

Aku sadar kalau tulisan ini basi banget.

Ketika tulisan ini dibuat, si ubuntu sudah bernama Intrepid Ibex. Kalau versi yang aku gunakan bernomor 6.10, maka si Intrepid Ibex bernomorkan 8.10. Yach, sudah ketinggalan hampir 2 tahun dan aku masih setia menggunakan si Edgy Eft a.k.a. Ubuntu 6.10.

Gak apa-apa, it’s not a big deal.

Ada beberapa alasan kenapa aku masih setia menggunakan si Edgy Eft. Dan aku rasa tidak perlu dituliskan kali ini. Pada tulisan tentang Dual Boot, sedikit banyak sudah ada cluenya. Alasan lainnya yaitu adanya DVD Repository hasil sumbangan seorang teman. Jadi lengkap sudah istilah free yang aku dapatkan. Udahlah installernya gratis, Repository pun didapatkan dengan gratis pula. How lucky me? It’s totally really free especially for me.

Apa saja pengalaman yang aku dapatkan?

Saham dan CDS untuk orang lugu

15 Oktober 2008 oleh Aan Sam

Awalnya sich karena tertarik pengen tahu tentang Saham dan Credit Default Swap itu sendiri. Selanjutnya rasa penasaran yang muncul.

Kenapa?
Penasaran aja bagaimana pasar saham dan Credit Default Swap (CDS) mampu membuat sebuah negara super power penganjur sekaligus pelaku pasar bebas bersedia dengan konyolnya untuk merogoh kocek dalam-dalam demi sebuah dalih. Beragam dalih diberikan, dibeberkan dan dijelaskan demi sebuah alasan yang tidak rasional.
Alasan tidak rasional tersebut adalah kerugian.

Kenapa aku katakan hal ini?
Bukan berlagak nasionalis

  1. Ketika Indonesia dilanda krisis tahun 1997 hingga 1998, Indonesia meminta saran dari IMF karena khawatir menjadi sebuah negara yang gagal karena tidak mampu membayar hutang. Kenapa negara super power tersebut tidak meminta saran dari IMF pula?
  2. Kalau kondisinya sama dengan krisis di Indonesia, kenapa resep yang telah digunakan di Indonesia tidak digunakan juga di sana?
  3. Dua hal diatas, semakin menunjukkan bahwa urat malu di negara super power telah putus. Bahkan tanpa malu-malu untuk menjilat ludah sendiri.

  4. Ketika sebuah perseroan rugi atau bangkrut, bukankah para pemilik yang harus menanggung seluruh kerugian tersebut? Bahkan pemilik harus membayar seluruh kerugian dengan menggunakan semua simpanan yang dimiliki? Lalu kemana keuntungan yang telah didapatkan pada tahun-tahun sebelumnya?
  5. Ketika perseroan atau perusahaan untung, tidak banyak yang menikmati. Hanya segelintir orang yang berpesta pora.
  6. Ketika perseroan atau perusahaan rugi, maka perseroan atau perusahaan itu akan mengajak orang banyak dan semakin banyak semakin baik untuk ikut merasakan kerugian yang dideritanya.

Semakin banyak yang aku dapatkan, semakin bingunglah aku. Aku pengennya sich penjelasan yang mudah difahami oleh orang awam. Semakin mudah penjelasan maka semakin mudah pula untuk dijelaskan.

Ilustrasi berikut memberikan penjelasan kecil bagaimana saham, Credit Default Swap dan pelaku di sekitarnya. Tulisan ini merupakan interpretasi bebas dari sebuah thread di milis dan tulisan dari sini yang ada di milis FPK.

Pengen tahu interpretasi bebasnya??

AKKBB vs FPI (di Televisi)

28 September 2008 oleh Aan Sam

Sebenarnya males juga nonton TV pagi ini, 26 September 2008. Kebetulan aja channel yang sedang aku tonton siaran Kabar Pagi di TVOne. Sekitar jam 5 pagi waktu Indonesia Barat.

Dalam salah satu sesinya, TV One menayangkan rekaman silat lidah dan tarik urat antara perwakilah AKKBB dan perwakilan FPI. Silat lidah yang difasilitasi oleh sebuah lembaga penyiaran publik dalam hal ini TV One dan ditonton oleh pemirsa yang sangat beragam karena aku tidak suka dengan istilah jutaan, baik dari segi jumlah dan tingkat pendidikan maupun emosionalnya.

Permasalahan yang dibahas yaitu Kericuhan antara aktivis AKKBB dan aktivis FPI ketika berlangsungnya sidang pengadilan atas salah satu pemimpin FPI di Jakarta. Kejadian yang lantas menimbulkan bentrokan antar aktivis.

Apa yang aku dapatkan?

Silahkan melanjutkan

Ganti Kacamata

24 Juli 2008 oleh Aan Sam

Kalau salah seorang CEO sebuah penerbitan menulis buku berjudul Ganti Hati, maka seorang A’an Sam menulis di blog Ganti Kacamata

Ceritanya dimulai ketika beberapa hari yang lalu aku kehilangan kacamata. Kacamatanya gak seberapa besar ukurannya. Minus setengah aja. -0,5 pada kedua sisi mata. Inipun masih dapat diperdebatkan pengukurannya. Lha gimana gak diperdebatkan, diperiksa oleh seorang spesialis mata ukuran lensa yang digunakan adalah -0,5; sementara ketika diperiksakan ke optik untuk membuat lensa ukuran lensa yang aku perlukan sebesar -0,75. Perbedaan hanya sekitar -0,25, gak lebih dari -2,00. Gak apa-apa lah, anggap saja koreksi dan angka toleransi.

Meskipun aku sudah divonis bahwa penglihatan jauh yang aku alami bermasalah, dokter menyatakan bahwa tidak menjadi masalah tanpa menggunakan alat bantu kacamata. Pandangan jarak dekat yang aku miliki masih berfungsi dengan relatif baik, itu alasan yang dikemukakan oleh seorang wanita dokter spesialis. Aku disarankan untuk menggunakan alat bantu kaca mata kalau memungkinkan dan sudah ada uang untuk beli. Lantas second opinion yang aku dapatkan, malah aku diminta untuk segera menggunakan alat bantu kacamata untuk meminimalkan resiko. Salah satu resiko jika aku tidak segera menggunakan alat bantu kacamata adalah bertambahnya ukuran lensa yang akan aku pergunakan.

Berdasarkan saran dari seorang wanita dokter spesialis dan second opinion, aku memilih untuk segera menggunakan alat bantu kacamata. Dan kebetulan pula, aku sudah memiliki sejumlah uang untuk menebus sang alat bantu kacamata. Yang ada dalam pikiranku adalah membeli kacamata dengan harga yang seefektif mungkin. Aku tidak berfikir tentang fashionable, trendy, up to date ataupun gengsi. Fungsionalitas dan kualitas merupakan item yang menjadi pilihan utama dalam memilih alat bantu atau kacamata.

Salah seorang saudara dekat, aku disarankan untuk menuju ke sebuah optik. Optik yang dimaksudkan berada di kawasan permukiman yang cukup asri dan bertempat di sekitar kawasan Stasiun Lempuyangan Yogyakarta. Promosinya adalah harga bersaing dengan kualitas setara optik terkemuka.

Tuing….tuing……!!!!!!!
Gimana dengan framenya?

Merokok dan Pilihan

27 Mei 2008 oleh Aan Sam

Kali ini aku pengen nulis tentang rokok. Ya, ROKOK.
Kenapa?
Gak tahu kenapa aku pengen aja nulis tentang rokok. Aku pengen aja berbagi tulisan tentang rokok.
Lantas?
Kalaupun aku menulis tentang rokok dan bahaya merokok, mungkin ada baiknya aku gak menulis tentang ini. Aku tidak menulis tentang itu.
Aku juga tidak akan nulis tentang manfaat rokok, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Sudah terlalu banyak tulisan tentang hal tersebut.

Trus yang pengen aku tulis apa?
Silahkan melanjutkan membaca

Sebuah Do’a

17 Maret 2008 oleh Aan Sam

Mungkin lebih tepat jika diberi judul Do’a Untukmu.

Allah Yang Maha Pemurah, Terima Kasih Engkau telah menciptakan dia dan mempertemukan aku dengan dirinya.
Terima Kasih untuk saat – saat indah yang boleh kami nikmati bersama. Terima Kasih untuk setiap pertemuan yang telah kami lalui bersama. Terima Kasih untuk setiap saat – saat yang lalu.

Ya Allah, jika aku bukan pemilik tulang rusuknya, jangan biarkan aku merindukan kehadirannya. Jangan biarkan aku melabuhkan hatiku di hatinya. Kikislah pesonanya dari pelupuk mataku dan usirlah dia dari relung hatiku. Gantilah damba kerinduan dan cinta yang bersemayam di dada ini dengan kasih dari dan pada-Mu yang tulus dan murni. Tolonglah aku agar dapat mengasihinya sebagai sahabat.

Tetapi jika Kau ciptakan dia untukku, Yaa Allah, tolong satukan hati kami. Bantulah aku untuk mencintai, mengerti dan menerima dia seutuhnya. Berikan aku kesabaran, ketekunan dan kesungguhan untuk merebut hatinya. Letakkan di hati agar dia juga mencintaiku, mengerti dan mau menerima aku dengan segala kelebihan dan kekuranganku sebagaimana aku telah Kau ciptakan. Yakinkanlah dia bahwa aku sungguh – sungguh mencintai dan rela membagi suka dan dukaku dengan dia.

Yaa Allah Maha Pengasih, dengarlah doaku ini. Lepaskanlah aku dari keraguan ini menurut kasih dan kehendak-Mu.
Allah Yang Maha Kekal, aku tahu Engkau senantiasa memberikan yang terbaik buatku. Luka dan keraguan yang aku alami pasti ada hikmahnya. Pergumulan ini mengajari aku untuk hidup makin dekat pada-Mu, untuk lebih peka terhadap suara-Mu yang membimbing aku menuju terang-Mu.

Ajarlah aku untuk tetap setia dan sabar menanti tibanya waktu yang telah Engkau tentukan. Jadilah kehendak-Mu dan bukan kehendakku yang jadi; dalam setiap bagian hidupku Yaa Allah. Amin…..

Postingan ini aku dedikasikan untuk seorang sahabat yang telah menikah pada 9 Februari 2008.
Ma’afkan aku sahabat, aku masih belum mampu memberikan kado apapun pada pernikahan kalian. Aku memang bukan sahabat yang baik bagi kalian. Dan kalian tetap sahabat baikku.

Sekali lagi, Ma’afkan aku.

Kemaruk Posting

12 Maret 2008 oleh Aan Sam

Iseng – iseng nengok blog sendiri.

Wah, ternyata aku menderita penyakit kemaruk posting. Lihat saja bulan ini. Dalam satu hari tercatat ada 4 tulisan baru di blog ini.

He…he…
Salah kah hal ini?
Silahkan untuk melanjutkan membaca

Uang (milik) Tuhan!!!

7 Maret 2008 oleh Aan Sam

Cerita ini aku sadur dari kiriman seorang teman. Makasih teman, Inspiring dech ceritamu. Ia ngasih judul seperti judul tulisan ini.

Setelah menerima 2 buah uang dari mamanya, Doni mencium kedua pipi Mamanya. Doni melangkah keluar rumah untuk berangkat Sekolah Minggu di Gereja dekat rumahnya.

Sepanjang perjalanan Doni mengingat – ingat kemana uang yang ada di tangannya itu harus dipergunakan.

“Doni, ingat ya..” ujar Mama Doni.
“Yang kanan untuk Kolekte, yang kiri untuk jajan.”
“Iya Ma, Doni ingat koq,” jawab Doni.

“Yang kanan untuk Kolekte, yang kiri untuk jajan,” Doni menjawab dan mengangguk yakin.

Doni menghafalkan pesan ibunya sepanjang perjalanannya menuju Sekolah Minggu. Doni mengucapkannya berkali – kali di sepanjang jalan.

Tanpa disadarinya, kaki Doni terantuk batu sehingga uang yang ada di tangan kirinya terlempar jauh. Doni kaget dan memandangi uang logamnya yang terlempar dari tangannya. Doni lebih kaget lagi ternyata uang logamnya terlempar hingga masuk ke got yang penuh dengan lumpur hitam.

Tahu apa yang dilakukan oleh Doni??
Sambil memandang ke arah langit, Doni berkata :
“Tuhan, itu uangmu lhooo……..”

Bagaimana dengan kita?

Burung Gagak dan Kenangan Seorang Ayah

7 Maret 2008 oleh Aan Sam

Masih sama dengan tulisan sebelumnya, kali ini hasil saduran dari milis ini.

Pada suatu petang seorang tua bersama anak mudanya yang baru menamatkan pendidikan tinggi duduk berbincang-bincang di halaman sambil memperhatikan suasana di sekitar mereka.

Tiba-tiba seekor burung gagak hinggap di ranting pokok berhampiran.
Si ayah lalu menuding jari ke arah gagak sambil bertanya,
“Nak, apakah benda itu?”
“Burung gagak”, jawab si anak.

Si ayah mengangguk-angguk, namun sejurus kemudian sekali lagi mengulangi pertanyaan yang sama. Si anak menyangka ayahnya kurang mendengar jawabannya tadi lalu menjawab dengan sedikit kuat,
“Itu burung gagak, Ayah!”

Tetapi sejurus kemudian si ayah bertanya lagi pertanyaan yang sama. Si anak merasa agak keliru dan sedikit bingung dengan pertanyaan yang sama diulang-ulang, lalu menjawab dengan lebih kuat, “BURUNG GAGAK!!”

Si ayah terdiam seketika. Namun tidak lama kemudian sekali lagi sang ayah mengajukan pertanyaan yang serupa hingga membuat si anak hilang kesabaran dan menjawab dengan nada
yang kesal kepada si ayah, “Itu gagak, Ayah.”

Tetapi agak mengejutkan si anak, karena si ayah sekali lagi membuka mulut hanya untuk bertanya hal yang sama. Dan kali ini si anak benar-benar hilang sabar dan menjadi marah.
“Ayah!!! Saya tak tahu Ayah paham atau tidak. Tapi sudah 5 kali Ayah bertanya soal hal tersebut dan saya sudah juga memberikan jawabannya. Apa lagi yang Ayah mau saya katakan???? Itu burung gagak, burung gagak Ayah…..”, kata si anak dengan nada yang begitu marah.

Si ayah lalu bangun menuju ke dalam rumah meninggalkan si anak yang kebingungan. Sesaat kemudian si ayah keluar lagi dengan sesuatu di tangannya. Dia mengulurkan benda itu kepada anaknya yang masih geram dan bertanya-tanya. Diperlihatkannya sebuah diary lama.

“Coba kau baca apa yang pernah Ayah tulis di dalam diary ini,” pinta si Ayah. Si anak setuju dan membaca paragraf yang berikut.

Hari ini aku di halaman melayani anakku yang genap berumur lima tahun. Tiba-tiba seekor gagak hinggap di pohon berhampiran. Anakku terus menunjuk ke arah gagak dan bertanya, “Ayah, apa itu?”
Dan aku menjawab, “Burung gagak.”
Walau bagaimana pun, anakku terus bertanya soal yang serupa dan setiap kali aku menjawab dengan jawaban yang sama. Sehingga 25 kali anakku bertanya demikian. Demi rasa cinta dan sayangku aku terus menjawab untuk memenuhi perasaan ingin tahunya. Aku berharap hal ini menjadi suatu pendidikan yang berharga untuk anakku kelak.

Setelah selesai membaca paragraf tersebut si anak mengangkat muka memandang wajah si Ayah yang kelihatan sayu.

Si Ayah dengan perlahan bersuara, ” Hari ini Ayah baru bertanya kepadamu soal yang sama sebanyak 5 kali, dan kau telah hilang kesabaran serta marah.”

Ah, aku merasa kalau aku masih belum mampu menjadi seorang anak yang baik. Aku masih belum mampu memberikan yang terbaik untuk kedua orang tuaku.

Memang sich, saat ini kemampuanku masih sebatas memberikan DO’A bagi kedua orang tuaku. Mungkin saat ini Tuhan meminta aku untuk mencari sesuatu yang terbaik dari aku untuk diberikan kepada kedua orang tuaku. Atau barangkali Tuhan telah menunjukkan dan aku sendiri yang masih belum tahu?

Selamat Belajar An…

Trik Mempercepat Loading Open Office.org

7 Maret 2008 oleh Aan Sam

Bagi aku, pengguna Open Office di Ubuntu Linux, waktu yang diperlukan untuk membuka aplikasi OpenOffice.org sangatlah lama. Hampir 1 menit rasanya. Apalagi di mesin jadul (P3-450 MHz) yang masih setia aku gunakan.

Iseng aja aku mainin menu – menu yang ada di Open Office.org. Dan menu – menu yang aku mainkan adalah :

  1. Buka Open Office.org
  2. Menu Applications > Office > OpenOffice.org Word Processor
  3. Pilih Menu Option di Open Office.org
  4. Tools > Options
  5. Pada Menu Option pilih Open Office.org
  6. Pada panel sebelah kiri terdapat menu – menu : OpenOffice.org, Load/Save, Language Settings, dan lain – lain. Pilih saja Open Office.org.
  7. Pilih Sub Menu Memory
    Pada menu ini aku merubah nilai – nilai yang ada.
    1. Undo
    2. Number of steps aku ubah menjadi 20
    3. Graphic Cache
    4. Use for Open Office.org, aku ubah menjadi 12 MB.
    5. Cache for inserted objects
    6. Number of objects aku ubah menjadi 10.
  8. Selesai
  9. Klik OK
  10. Tutup Open Office.org
  11. File > Quit
  12. Buka kembali Open Office.org
  13. Applications > Office > OpenOffice.org Word Processor

Rasakan bedanya. Di mesin yang aku miliki, cukup lumayan juga perbedaannya. Meskipun aku sendiri sadar sich kalo pengen lebih cepat, maka RAM yang terpasang di mesinku harus ditambah dari kapasitas yang ada sekarang.
Di mesin yang aku pakai, RAM yang terpasang masih 128 MB. Untuk aktivitas sehari – hari, aku merasa kapasitas yang ada sudah lebih dari cukup. Gak mau terlalu serakah dengan memperbesar kapasitas RAM (baca belum punya uang untuk beli RAM).

Akhir kata, SELAMAT MENCOBA.


Tulisan ini juga hasil berguru kepada Om Sabri di milis dan Om Budi Bali wae
Terima Kasih Om....